Welcome

At my blog, Stay and Enjoy

Jumat, 26 Juni 2009

Kopi Ku Kenikmatan untuk Wanita ^_^


Tidak terasa sudah waktunya pulang dari tidur yang tidak panjang karena insomnia ini begitu melekat dalam diri saya.
Terbangkit ku dari tempat tidur, lalu meratap cahaya silau terus menghiasi mata ku! Sedikit demi sedikit ku coba sadarkan diri untuk memanggil jabang bayi ku yang masih belum masuk dalam ragaku.
5 menit berlalu akhirnya sampai pada waktu yang sempurna ketika saya benar-benar sudah bisa merasakan keberadaan saya. Loncatlah kaki saya untuk turun ke bawah, untuk mencari tempat meregangkan otot-otot dan tulang rawan yang lagi menegang.
aaaaaaaahhhhh... lega rasanya hari ini saya masih dapat melihat mentari di pagi hari, saatnya untuk hadapin hari indahku!

sampai lah pada tempat yang berbahagia, kulihat secangkir kopi yang masih berawan abu-abu di atasnya lalu ku sapa dia " hi.... kenikmatan ku " tidak lama ku langsung menegug kenikmatan itu...... ohhh betapa nikmatanya secangkir kopi hangat ini ku rasakan dan sedikit-demi sedikit memasuki seluruh bagian tubuh ini untuk menghangatkan mu kelak "wahai kasih ku" !

Melihat sesuatu yang sering terlihat tapi jarang di hiraukan


Malam bertajuk gemulai dengan di percikan cahaya rembulan dan kunang kunang, kulangkahkan kaki ke sebuah desa kecil di daerah saya untuk melihat semua keragaman yang ada dalam desa saya......
horee saya akan melihat sebuah budaya yang tidak asing lagi, "wayang" hmmm berbicara tentang ini,
kebudayaan tidak berakar dari pandangan sexs semata seperti yang di katakan oleh sigmund frued. Kebudayaan indonesia menunjukan dorongan yang lebih manusiawi. Dengan meneliti jejak wujud kebidayaan indonesia menampakan pola dorongan ke arah spritual. Wayang adalah salah satu bentuk dari kebudayaan asli indonesia menunjukan pola spritual itu.

saya jadi terkesima saat itu, di saat pergelaran wayang ini memakai logika dongeng tetapi itu dasar nilai-nilai realitas sehari-hari. Terlihat wayang merupakan cermin dari kehidupan manusia secara kongkrit. Oleh karena itu, filsafat wayang berakar pada realitas kehidupan sehari-hari masyarakat indonesia.

Ini yang saya maksud dari keberagaman budaya yang masih bisa kita pelajari dan kita simak sebagai bentuk acuan dasar pemikiran ideologi dan menjadi sebuah kekuatan pikiran untuk menetukan jalan yang mana kita pilih.

part2 to pengetahuan


arjuna dan subadra


subadra
Subadra (Sanskerta: सुभद्रा; Subhadrā) atau Sembadra (dalam tradisi pewayangan Jawa) merupakan salah satu tokoh utama dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan puteri Prabu Basudewa (Raja di Kerajaan Surasena).

Ia terkenal dalam budaya pewayangan Jawa sebagai seorang puteri anggun, lembut, tenang, setia dan patuh pada suaminya. Ia merupakan sosok ideal priyayi puteri Jawa. Subadra yang sewaktu kecil bernama Rara Ireng mempunyai dua orang kakak yaitu Kakrasana yang kemudian menjadi raja di Mathura dengan gelar Prabu Baladewa dan Narayana yang kemudian menjadi raja di Dwaraka dengan gelar Prabu Sri Batara Kresna. Subadra menikah dengan salah satu anggota Pandawa yakni Arjuna. Dari rahim Sumbadra inilah lahir Abimanyu yang kemudian menurunkan Prabu Parikesit.
Riwayat
Subadra lahir sebagai puteri bungsu pasangan Basudewa dan Rohini, istrinya yang lain. Subadra dilahirkan setelah kedua kakaknya, yaitu Kresna dan Baladewa, membebaskan Basudewa yang dikurung oleh Kamsa di penjara bawah tanah. Kemudian Ugrasena, ayah Kamsa, diangkat menjadi raja di Mathura dan Subadra hidup sebagai puteri bangsawan di kerajaan tersebut bersama dengan keluarganya.

Saat Arjuna menjalani masa pembuangannya karena tanpa sengaja mengganggu Yudistira yang sedang tidur dengan Dropadi, ia berkunjung ke Dwaraka, yaitu kediaman sepupunya yang bernama Kresna, karena ibu Arjuna (Kunti) bersaudara dengan ayah Kresna (Basudewa). Di sana Arjuna bertemu dengan Subadra dan mengalami nuansa romantis bersamanya. Kresna pun mengetahui hal tersebut dan berharap Arjuna menikahi Subadra, demi yang terbaik bagi Subadra. Pada saat itu status Arjuna adalah suami yang memiliki tiga istri, yaitu Dropadi, Citrānggadā, dan Ulupi. Maka pernikahannya dengan Subadra menjadikan Subadra sebagai istrinya yang keempat.

Subadra dan Arjuna memiliki seorang putera, bernama Abimanyu. Saat Pandawa kalah main dadu dengan Korawa, mereka harus menjalani masa pembuangan selama dua belas tahun, ditambah masa penyamaran selama satu tahun. Subadra dan Abimanyu tinggal di Dwaraka sementara ayah mereka mengasingkan diri di hutan. Pada masa-masa itu Abimanyu tumbuh menjadi pria yang gagah dan setara dengan ayahnya.

Ketika perang besar di Kurukshetra berkecamuk, para pria terjun ke peperangan sementara para wanita diam di rumah mereka. Abimanyu dan Arjuna turut serta ke medan laga dan meninggalkan Subadra di Dwaraka. Pada waktu itu umur Abimanyu 16 tahun. Saat pertempuran berakhir, hanya Arjuna yang selamat sementara seluruh puteranya yang turut berperang gugur, termasuk Abimanyu yang sangat dicintai Arjuna dan Subadra. Namun sebelum gugur, Abimanyu sudah menikah dengan Utara dan memiliki seorang putera bernama Parikesit. Parikesit kemudian menjadi raja Hastinapura menggantikan Yudistira, pamannya. Subadra menjadi penasihat serta guru bagi cucunya tersebut.

Pemujaan
Di India, Subadra menjadi salah satu dari tiga dewa yang dipuja di Kuil Jagannath di Puri, bersama dengan kakaknya yang bernama Kresna (sebagai Jagannatha) dan Baladewa (atau Balarama, Balabhadra). Salah satu kereta dalam Ratha Yatra yang diselenggarakan secara tahunan didedikasikan untuknya. Menurut beberapa interpretasi, Subhadra dianggap sebagai inkarnasi dari YogMaya.

" GADIS DARI IPANEMA "



menginspirasikan dari segala bentuk terlihat dalam sebuah tingkah lakunya!!


Tall and tan and young and lovely
The girl from ipanema goes walking
And when she passes, each one she passes goes

When she walks, shes like a samba
That swings so cool and sways so gentle
That when she passes, each one she passes goes

but I watch her so sadly
How can I tell her I love her
Yes I would give my heart gladly
But each day, when she walks to the sea
She looks straight ahead, not at me

Tall and tan, and young, and lovely
The girl from ipanema goes walking
And when she passes, I smile - but she doesn't see (doesn't see)
(she just doesn't see, she never sees me,...)

TENTANG SAYA

DI PANDANG DARI SHIO

13 Oktober 1988
Shio-mu adalah Naga
Tiangan-Dizhi :
WuChen
atau
Naga unsur Tanah (yang)

Naga
Orang Naga terkenal murah hati, penuh semangat hidup, perkasa, egois, nyentrik, fanatik, banyak tingkah, suka menuntut, terkadang tak dapat ditolerir namun punya banyak pengagum. Sebagai pribadi yang angkuh, aristokratis dan tanpa tedeng aling-aling, Naga biasanya menyusun cita-citanya dalam usia muda dan menuntut standard tinggi serta kesempurnaan dari sesamanya, sama seperti yang disandangnya sendiri.

Naga merupakan gudang energi sejati. Ketidaksabarannya, hasratnya yang menyala-nyala serta semangatnya yang hampir-hampir menyerupai kesaktian, dapat berkobar bagai lidah api yang sering dilukiskan sedang disemburkan dari mulutnya. Naga senang melaksanakan segala sesuatu dalam skala besar dan seringkali ia berhasil mencapai tujuan yang diinginkannya. Warga Naga juga termasuk mereka yang cepat menjadi fanatik terhadap sesuatu hal. Orang tionghoa menamakan Naga sebagai pelindung kekayaan dan kekuasaan dan tentunya juga merupakan lambang kemakmuran. Namun Naga juga merupakan tanda binatang yang paling mudah terkena penyakit megalomania, alias terlalu mengagungkan diri sendiri...

Naga juga cukup sering mengabdi kepada keluarganya. Apa pun bentuk perbedaan antara dirinya dengan orang tua atau saudara, akan langsung terlupakan begitu mereka memerlukan bantuannya. Naga bisa segera mengesampingkan rasa dendamnya dan langsung menyelamatkan mereka tepat pada waktunya, tanpa mengharapkan imbalan jasa. Akan tetapi, keluarganya juga akan memperoleh kuliah yang panjang dan pedas begitu krisis berakhir. Naga jarang memoles kata-katanya. Meski ia bisa membual tentang kebebasan berbicara dan demokrasi, jangan pernah memandang serius, sebab ia sendiri menganggap dirinya di atas hukum dan tak selalu mempraktekkan apa yang dikuliahkannya.

Walaupun emosinya sering terlihat meletup-letup, Naga tidak dapat dikatakan sentimental, sensitif atau pun romantis. Segala bentuk cinta-kasih dan puja-puji yang dilontarkan ke hadapannya dianggapnya sudah sewajarnya: semua itu sudah menjadi haknya. Namun meski ia terkenal keras-kepala, kurang rasional dan tak dapat ditolerir bila sedang jengkel, Naga bisa langsung memaafkan begitu ledakan amarahnya lenyap. Dan karena kita juga harus saling memaafkan, Naga juga mengharapkan pengampunan bagi kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya. Tak dapat dipungkiri, Naga sendiri kadang-kadang lalai meminta maaf. Namun, ini terjadi bukan karena ia tebal muka atau tak punya perasaan, tapi hanya karena Naga tak punya waktu buat menjelaskan dirinya sendiri atau pun memang tak mau diganggu oleh rasa dendam dan hal-hal yang remeh; ia hanya ingin melanjutkan pekerjaannya.

Bagi orang bershio Naga, memiliki maksud tertentu atau misi khusus dalam hidup adalah vital. Tak sehat baginya buat bergoleran saja tanpa berbuat apa-apa. Ia harus selalu punya motif buat diperjuangkan; punya tujuan buat dicapai; punya prinsip buat dipertahankan dan dibela.

Orang bershio Naga biasanya super positif. Tak ada yang dapat menahannya lama-lama, bahkan sekalipun ia dihadapkan pada persoalan yang menjemukan, semangat hidupnya selalu lebih cepat membangkit kembali dibandingkan orang lain. Terlebih lagi, Naga itu pribadi yang amat terbuka. Sulit baginya berpura-pura memperlihatkan emosi yang saat itu tak dirasakannya. Ia juga tak suka menyimpan rahasia, bahkan tidak jarang ia secara tidak sadar membongkar rahasia yang telah dipercayainya oleh orang lain! Untungnya, perasaan Naga selalu datang dari lubuk hatinya. Bila ia menyatakan cinta, maka boleh diyakini bahwa pernyataannya itu tulus.

Kamis, 25 Juni 2009

part 1 to pengetahuan





TUMBUHAN MANDRAKE
Mandrake adalah nama umum untuk anggota tanaman genus Mandragora milik keluarga yang nightshades (Solanaceae). Mandrake deliriant karena mengandung hallucinogenic tropane alkaloids seperti akar hyoscyamine dan kadang-kadang berisi bifurcations menyebabkan mereka menyerupai manusia angka, akar mereka sudah lama digunakan dalam ritual sihir, hari ini juga dalam agama neopagan seperti Jerman revivalism Wicca dan agama seperti Odinism. (Hal ini di duga menjadi crude kemiripannya dengan tokoh manusia, yang oleh jepitan penyempitan sedikit di bawah bagian atas, sehingga membuat jenis kepala dan leher, dan di bagian atas berpilin cabang kecuali dua, yang meninggalkan mereka sebagai senjata, dan lebih rendah, kecuali dua, yang meninggalkan mereka sebagai kaki.)

Di Mandrake, Mandragora officinarum, merupakan tanaman yang disebut oleh orang Arab luffâh, atau beid el-jin ( "djinn dari telur"). Peterseli yang berbentuk akar sering branched. Ini tidak memberikan akar di permukaan tanah dengan hiasan berbentuk mawar dari ovate-bujur ke ovate, berkerut, garing, sinuate-dentate ke seluruh daun, 5 hingga 40 sentimeter (2,0-16 dalam) lama, yang menyerupai orang-orang yang tembakau-tanaman . Sejumlah satu dihiasi dgn bunga perkenalan begitu peduncles air dari leher bearing hijau keputih-putihan-bunga, hampir 5 sentimeter (2.0 in) luas, yang memproduksi bulat, segar, orange ke merah berries, menyerupai tomat kecil, yang menua pada akhir musim semi. Semua bagian tanaman yang beracun Mandrake. Natively tanaman yang tumbuh di selatan dan pusat Eropa dan tanah di sekitar Laut Tengah, serta di Corsica.

england language----
Mandrake is the common name for members of the plant genus Mandragora belonging to the nightshades family (Solanaceae). Because mandrake contains deliriant hallucinogenic tropane alkaloids such as hyoscyamine and the roots sometimes contain bifurcations causing them to resemble human figures, their roots have long been used in magic rituals, today also in neopagan religions such as Wicca and Germanic revivalism religions such as Odinism. (It is alleged[who?] that magicians would form this root into a crude resemblance to the human figure, by pinching a constriction a little below the top, so as to make a kind of head and neck, and twisting off the upper branches except two, which they leave as arms, and the lower, except two, which they leave as legs.)
The mandrake, Mandragora officinarum, is a plant called by the Arabs luffâh, or beid el-jinn ("djinn's eggs"). The parsley-shaped root is often branched. This root gives off at the surface of the ground a rosette of ovate-oblong to ovate, wrinkled, crisp, sinuate-dentate to entire leaves, 5 to 40 centimetres (2.0 to 16 in) long, somewhat resembling those of the tobacco-plant. A number of one-flowered nodding peduncles spring from the neck bearing whitish-green flowers, nearly 5 centimetres (2.0 in) broad, which produce globular, succulent, orange to red berries, resembling small tomatoes, which ripen in late spring. All parts of the mandrake plant are poisonous. The plant grows natively in southern and central Europe and in lands around the Mediterranean Sea, as well as on Corsica.


By:

This article is about the plant. For other uses, see Mandrake.

"PANGGIL SAYA DEAN BUKAN DEAN"


Bukan sesuatu kekeliruan atas sebuah nama
Bukan sesuatu penyesalan jika ada beberapa sosok menanyakan nama tersebut

Lahir 13 oktober 1988,balikpapan
Di Tanah Air Ibu Pertiwi ini

Ku mulai hari-hari saya dengan sebuah mimpi dan cita-cita di usia belia ini, mencoba terus mencari sesuatu hal yang belum di ketahui untuk di fikirkan secara mendalam, ilmiah dan di jadikan sebuah ideologi.
Tersentuh ku dalam sebuah kebudayaan absolute yang sudah di tanamkan dalam diri sejak lahir dimuka bumi ini dengan segudang pertanyaan! Sampai pada akhirnya tertinggal sudah semua yang harus ku gapai dan ku pelajari. Tidak ada penyesalan dalam diri yang membuat saya merasa terkutuk atas sikap ini, tidak tahu harus bertanya kepada siapa dan apa salah perbuatan ku ini.
saya terlahir dari dua sosok perbedaan agama, budaya, ras dan yang pastinya sebuah pemikiran, saya bangga mereka dapat bersatu dan saya bangga di titipkan olehnya di ke dua sosok tersebut, dan tidak sedikit pun kusesali. Saya fikir bukan dengan ketakutan bahwa klaim dalam diri saya sudah terlalu kehilangan arah, terselimuti sebuah kelabu abu-abu aku terus berjalan menyususuri kehidupan ini dengan melihat semua ideologi manusia yang ku lihat dengan kasat mata, dan banyak pembelajaran sebuah bentuk fakta-fakta rill kudapati sebagai pemahaman. kekosongan yang hanya terdapati jika terus melakukan ini ketika penyimpangan kulakukan terhadap sikap ku ini. Lelah kurasakan jika terus ku konsep rapi untuk melakukan hal ini, bosan ku rasakan sikap ini jika terus terkumpulkan teori buat ideologi ku ini jika hanya bertabur masalah yang terus menghantam alam nyata dan dunia lelapku setiap tertidur.

pagi ini begitu cerah,kunyalakan sebuah alat media kapitalis yang akan memberikan saya banyak begitu informasi tentang banyak hal, ku nikamati saja gambar kaca ini untuk melihat semua bangsa bisu yang lagi muncul di depan ku. Angkat kaki lalu ku renggangkan(semoga jempol kaki ku tidak keram lagi) terus kuganti channel dari satu ke satunya untuk terus melihat persaingan eksistensi media publik tunjukan ide kreatifnya masing-masing. Hahaha sampai sekarang masih terlihat juga persaingan ini, sampai untuk menjaga rating sampai harus di buat session7 yang semakin mual aku untuk melihat acara tersebut.

Selamat datang surabaya,tinggalah saya disini karena tertuntu untuk hidup lebih layak. hmmhm banyak warna di sini, pasti banyak permasalahan duniawi kelak! Sampailah pada suatu ketika dalam kepentingan pendidikan, saya harus beradaptasi dengan lingkungan sekitar lagi(malesnya pindah2 ya gini ni), masuklah sesosok warna melewati pintu reot lalu duduk di kursi kayu di depan ku. Kudengarkan dia mulai memanggil...... 1. andik, 2,3.4.........18. galih, 17,18, ............ 24. rosa 25,26,27.......... sampai terakhir 33.zigno ! sepertinya saya tokoh dalam cerita saya tapi kenapa tidak tersebutkan ya dari mulutnya?! ku tanya warna tersebut, " kenapa saya belum di panggil" ? Ternyata prosedur yang di berikan belum lengkap!dan ke esokannya saya baru di panggil juga deh!

Saat kelam sudah mulai redup karena saya mulai menemukan kesenangan di masa kecil ku, hmm..saya kira ini akan membuat jauh dari pemikiran ku menjadi semakin lebih labil. Ada seoarng kawan memanggil ku, " hi dean salam kenal" apa itu suatu sapaan apa sesuatu ejekan!? capek rasa hati dan telinga ku dengar semuanya jadi ikut memanggil seperti itu, sampai pada suatu ketika ku katakan " jangan panggil saya dean saya lebih suka di panggil dean!!! Aku ragu akan tindakan saya, saya hanya mau di panggil nama dari yang melahirkan saya dan tidak mau mendengarkan perubahan dialek dan bahasa yang di gunakan oleh berbagai pemahaman yang kurang kondusif untuk di gunakan dalam sentuhan ini. Saya jadi berfikir ini kah sebuah kehidupan yang penuh akan warna, yang dapat mempengaruhi sampai dalam sebuah ideologi, sikap dan perilaku. Mereka tidak jadi sosok yang benar karena salah menempatkan diri untuk bersikap!!


>>>>>>>>>>SeLeSaI<<<<<<<<<<